Titipan Surat dari Murabbinya


29 Ramadhan 1435 H

Pagi itu sungguh pagi yang begitu cerah. Pulang dari i'tikaf malam Ramadhan terakhir, seseorang di seberang sana mengirimkan sebuah wasap (baca: whatsapp message) yang berisikan mengajak untuk ketemuan. Bilangnya sih ada titipan. Tapi gamau nyebutin titipan dari siapa.

Siang hari pertemuan itupun terlaksana. Di depan rumah, dengan sedikit terburu karena sang penitip akan segera mudik, diberikanlah keresek hitam itu padaku. Keresek yang ternyata berisikan dua buah amplop. Satu amplop putih panjang, satunya amplop kecil yang pinggirannya berwarna merah biru. Amanahnya sih katanya amplop yang kecil silakan dibuka, tapi tidak untuk amplop yang lebih besarnya. Kemudian bergegas pulanglah sang penitip itu.

Wasap kembali masuk. Mengingatkan bahwa jangan sampai amplop yang besarnya dibuka. Baiklah. Karena saat itu sedang dilanda kesibukan untuk membuat kue lebaran, jadilah saya meneruskan dan fokus pada kue-kue cantik yang siap dibentuk dan dipanggang. Tiba saat shalat dzuhur. Saya penasaran pada amplop kecilnya.
Perekat mulai dibuka, dan saya keluarkan isinya dari bungkusnya.

Sebuah surat yang diawali do’a-do’a dan nasihat-nasihat. Di penghujung surat ada berbaris kalimat yang entah kenapa langsung membuat saya membisu. Tertera juga di surat tersebut bahwa amplop yang kedua hendaknya dibuka di waktu-waktu utama seperti menjelang berbuka atau saat waktu sepertiga malam.

Ohiya, kue-kuenya...

-bersambung-

Fitria Rahmaani

penyuka hujan, penikmat rindu, pemuja Sang Esa

Embunya Hujan dan Pelangi

IRTnya Abah Adit

Full Time Mom

'Kontraktor' di Cimahi

No comments:

Post a Comment