[Review Buku] - Emotional Healing Therapy


Bismillaahi Arrahmaan Arrahiim

Pernah ga sih ngerasa tiap ada kesalahan kecil kok ya uring-uringannya luar biasa?
Atau tiap anak/suami bertingkah dikit, emosi meledak-ledak?
Atau ngerasanya kebaikan orang kok ga nampak-nampak di mata kitorang ya? Ngerasanya kok sendirian bae berjuangnya?
Atau tiap inget satu memori entah di masa kecil atau di masa sekolah kok ya langsung ngembeng aer mata, bukannya mesam mesem bahagia?
Atau ngerasa kok saya sih yg paling menderita di dunia ini?

Ada yg ga beres nih pasti!
Ada yg salah nih pasti di diri saya.. tapi apa?
Cara cari taunya gimana?

Maha Baik Allah udah nuntun saya sampe di Tahap 4 seleksi masuk #KIMI2019 alias Komunitas @ibumudaindonesia.

Qadarullah dikasih challenge berupa baca salah satu dari 5 buku yg diberikan.
Karena masalahku itu adalah pertanyaan-pertanyaan yg ada di atas, jadinya langsung cus pilih buku Emotional Healing Therapy karya Teh @irmasoulhealer.

Wagelaseh banget buku ini! Baru mukadimah dan bab 1 aja udah sesenggukan parah, berasa dilempar bakiak, berasa dikoet lalu diudek udek ini perasaan.

Di bab 1 ini diriku belajar banget tentang mengendalikan emosi secara tepat. Bukan dilampiaskan apalagi ditekan.
Dulu, saya bukan tipe orang yang bisa melampiaskan emosi, saya kira cara terbaik mengendalikan emosi adalah menekannya, membiarkan waktu menghapuskan segala sakitnya.
Tetot! Salah besar! Itu ternyata malah semacem nanem bom waktu yang siap meledak kapan aja. Dan bener, ternyata setelah menikah dan punya anak, emosi saya makin liar. #PoorAbahDanHujanPelangi

Ada beberapa metode yg disuguhkan di bab 1 ini.

1. Touch and Breath Method
Methode ini digunakan untuk tahu bagian tubuh mana yg merasakan sensasi ketika membayangkan satu masalah dan menghadirkan peristiwanya dalam pikiran. And it works for me! Emosi negatifnya jadi lebih netral, amarahnya jadi mereda, dan sedihnya jadi berkurang. Masalah tak pernah datang lagi? Tentu tidak bebo :* Setidaknya jadi tau cara menenangkan diri.

2. Berkenalan dengan Alam Bawah Sadar dan Mengenal Emosi yang Terjebak dalam Tubuh
Lalu dilanjut metode ini. Disinilah kita harus sadar emosi apa yg kejebak di tubuh dan bikin sakit fisik atau mental, dan ngeh awal emosi negatif itu terjadinya kapan.
Maka dengan Emotional Healing Therapylah kita mencari akar masalahnya, menetralkan energy negative, dan mendapatkan solusinya secara tepat, cepat, dan tentu saja melalui jalan yg benar. (EHT, hal 15)
Sekarang kita bisa mengetahui seberapa banyak emosi terpendam dalam diri dengan menjawab beerapa pertanyaan di bawah ini. Tapi janji ya, syaratnya harus jujur pada diri sendiri. ^^v
Apakah sering merasa sulit tidur atau istirahat? Badan terasa cepat lelah? Merasa selalu menemui masalah yang itu-itu aja? Mudah stress/panik terhadap suatu masalah? Merasa sangat susah untuk bersabar? Cepat marah karena orang di sekitar sangat tidak kompeten dan bahkan cenderung bodoh? Sering merasa tidak nyaman berada di keramaian? Sering merasa susah untuk berkomunikasi dan menyampaikan pendapat dengan orang tertentu? Dan sering merasa buntu/mandek untuk keluar dari masalah?
Jika jawabannya mayoritas Ya, atau semua malah Ya, yuk kita salaman dulu. Kamu ga sendiri kok beb.

Lalu lanjut ke Proses Emotional Healing yg cukup menguras emosi. Saya sadar banget masalah-masalah saya butuh penyembuhan. Di proses ini, cobalah untuk mengakui  semua perasaan. Rasa takut, marah, bersalah, kecewa, atau sedih. Terimalah bahwa perasaan-perasaan kurang menyenangkan itu pernah hadir dan menorehkan memori yang akan terus melekat dalam hidup kita. Lalu ketika emosi itu kian memuncak, biarkan dan relakan saja. Sampai merasa ringan dan lega, maka ucaplah syukur padaNya yg telah membantu proses ini.

3. Mirror Therapy
Metode ini digunakan untuk membantu pelepasan emosi yang terjebak dalam tubuh. Merasa kurang menarik, hitam, ga PD menatap bayangan di cermin, dll.
Ketika bercermin, catatlah hal-hal yg membuat kita merasa nyaman dan tidak nyaman. Terimalah segala kekurangan dan kelebihan itu. Ketika bangun pagi, tataplah cermin dan tersenyumlah, dan katakan "Makasih ya Allah pagi ini indah dengan tubuh dan wajahku yg sempurna". Geli sih pas dipraktekin, tapi jadi moodbooster banget.

4. Proses Digging Deeper
Proses ini menggali lebih jauh ke dalam untuk mengungkapkan semua perasaan yang sudah sangat lama tertimbun dalam tubuh.

5. Proses Inner Child Therapy
Inilah proses terakhir yang disajikan di bab 1 ini. Prosesnya sebenarnya sangat sederhana, hanya saja dibutuhkan kejujuran dan keberanian untuk membuka topeng yg selama ini kita pasang untuk menutupi siapa diri kita yg sebenarnya.
Huft. Berat beb nyatanya (buat saya).
Disini saya harus recall memori yg ga enak buat saya ketika masa kecil. Membiarkan alam bawah sadar menuntun kepada kejadia, masa, orang yang membuat luka itu tertanam kuat sehingga ingin melukai orang lain di masa kini. Ketika bertemu, ungkapkan padanya tentang kesakitan-kesakitan kita, dan katakan bahwa kita menerima semua perlakuannya di masa lalu. Peluk dan jabatlah orang itu, berikan ia maafmu. Karena sungguh yang butuh ketenangan adalah yang memaafkan.


Lalu di Bab 2 membahas tentang Warisan Emosi dari Orang Tua.
Disini ditekankan bahwa emosi tidak perlu dibuang dan dihilangkan. Yang perlu dilakukan adalah menyelaraskan dan menyeimbangkan agar terjadi harmonisasi dalam keseimbangan.
Saya percaya bahwa emosi yang dirasakan oleh orang tua, sedikit banyak akan menurun kepada anak. Ketika menjadi ibu, saya membuktikannya beberapa kali. Saat diri uring-uringan atau emosian di awal hari, entah kenapa bocah-bocah jadi bertingkah lebih banyak dari hari biasanya. Bisa jadi emosi yang meledak-ledak itu adalah emosi yang terjebak dan bawaan dari orang tua ketika mendidik saya di waktu kecil. It's time t cut the chain.
Maka yg diperlukan disini adalah Forgiveness Therapy. 

Maka ada 3 hal yang perlu kita kenali dulu di sesi ini.

1. Energi Kasih dan Ikatan Emosi dari Ibu
Salah satu kunci kestabilan emosi seseorang dalam hidupnya bila dewasa adalah ketika dia diasuh oleh ibunya. Dari ibu ia belajar kasih sayang, rasa tulus, cinta kasih, serta tentang cara berkomunikasi melalui bahasa cinta paling tidak 5 tahun pertama kehidupannya.

2. Energi Rezeki dan Belajar Bertahan Hidup dari Ayah
Ayahlah sang idola pertama anak lelakinya, dan cinta pertama anak perempuannya. Dari beliau, kita mengidolakan profesi atau prinsip yg diajarkan, dan kita belajar bertahan dari berbagai persoalan. Bila kita mendapatkan pengasuhannya, maka saat dewasa sosok ayahlah yg kita cari pada pasangan hidup. Bila tidak, kita akan selalu bentrok dengan orang-orang yg karakternya seperti beliau.

3. Karakter dan Emosi Hari Ini Buah dari Pola Pengasuhan
Banyak hal yg terjadi di masa kini yg sebenarnya menjadi luapan emosi di masa lalu. Bila yg terjadi terasa kurang baik di masa lalu, maka putuslah rantainya. Jangan biarkan generasi setelah kita merasakan kepahitan tersebut. Maafkanlah orang-orang yg menorehkan luka di masa lalu itu. Berat? Emang! Tapi percayalah! Bila kita memutuskan untuk melangkah, tidak ada satu persoalanpun yg tidak bisa diselesaikan dengan izinNya. Kuncinya satu: NIAT.

4. Forgiveness Therapy
Dan inilah tahap terakhir dari rangkaian Emotional Healing. Ngucapnya gampil. Prakteknya? Sulit buk :(
Terapi Memaafkan ini bukan hanya untuk orang yg kita benci karena telah menyakiti kita, melainkan memberi pemaafan untuk diri sendiri. Dan tau kan mana yg palng berat? Yap, memaafkan diri sendiri.
Terimalah dan akui perasaan negatif yg pernah menyergap diri kita. Lakukan pula afirmasi positif dan do'a kepadaNya.
Dan yg perlu diingat ketika kita merasa menjadi korban dari kejahatan dan kezhaliman, disaat itulah kita GAGAL MEMAAFKAN.
Jadilah tokoh baik dalam hidup, agar lebih dekat dengan Tuhan, lebih dekat dengan keudahan, kebahagiaan, kebenaran, dan pada akhirnya dekat dengan ketenangan lahir batin. Karena saya percaya, setiap kita berhak memperoleh ketenangan.

Bab terakhir yaitu bab 3 yg berjudul Real Story of Emotion berisi tentang kisah nyata para pejuang Emotional Healing Therapy. Harus baca sendiri kisah-kisahnya biar kerasa feelnya. Ada tentang kehidupan keluarga, kesendirian, karir, kesehata, rasa trauma, hingga tujuan hidup.

Dan pada akhirnya, emotional healing ini adalah tenang mengakui semua perasaan yg terjadi di hidup kita, menerimanya, memaafkannya, dan menikmati setiap proses yg berujung pada pengenalan diri sendiri.

Cheers,
Don't forget to love yourself <3
Fitria Rahmaani

Fitria Rahmaani

penyuka hujan, penikmat rindu, pemuja Sang Esa

Embunya Hujan dan Pelangi

IRTnya Abah Adit

Full Time Mom

'Kontraktor' di Cimahi

No comments:

Post a Comment