Bahwa mencintai adalah tentang seberapa besar kau dapat memperjuangkan apa yang kau cintai. Hidup, atau mati.
Menatap wajah tenangmu ketika tertidur adalah kenikmatan terbesar yang bisa aku miliki. Menggenggam tangan-tangan kecilmu bagaikan menggenggam seluruh dunia. Kaulah duniaku.
Sebelas Oktober Dua Ribu Lima Belas:
Hari ini adalah HPL (Hari Perkiraan Lahir)mu, seorang bayi yang kami nantikan Sembilan bulan lamanya. Hari itu nampak belum ada tanda-tanda cinta yang kau berikan. Stimulasi alami yang kami ikhtiarkanpun nampaknya belum mau membuatmu ingin hadir melihat dunia baru yang lebih dulu kami tinggali.
Dua Belas Oktober Dua Ribu Lima Belas:
Lewat satu jam dari HPL-mu itu, aku merasakan sesuatu yang tak biasa terjadi di tubuhku. Sekujur tubuh sakit luar biasa, terutama di tempat kau tinggal selama sembilan bulan itu. Frekuensi bolak-balik ke kamar kecil pun meningkat.
Entah kesakitan macam apa yang aku tularkan pada suami saat itu. Remasan tangan, gigitan, atau mungkin bahkan cakaran yang entah aku sadar atau tidak ketika melakukannya. Usapannya di punggungku menjadi penawar sakit meski sedikit.
Allahu Rabbi…. Inikah tanda-tanda cinta yang mulai muncul itu?
Mulai dari lima belas menit sekali, lalu sepuluh menit sekali, kemudian lima menit sekali, hingga akhirnya dua menit sekali, nyeri hebat karena kontraksi itu datang.
Ingin rasanya jungkir balik saat itu saking rasa sakitnya begitu mendera.
Rabbi, kuatkan kami.
Jam berdetak seakan lamaaaa sekali. Hingga akhirnya adzan Subuh pun berkumandang. Syahdu sekali rasanya mendengar adzan sembari menikmati sakit yang datang dua menit sekali itu. Kami putuskan untuk berangkat menuju bidan untuk mengecek keadaan.
Saat bergegas ke kamar kecil, mucus plug sebagai salah satu tanda jelang persalinan telah datang. Ku ambil air wudhu lalu kutunaikan sholat sambil duduk karena berdiri menopang badan sendiripun rasanya sudah tak sanggup. Yaa Rabb, jika ini saatnya, tolong mudahkan kami.
Ba’da sholat Subuh sekitar pukul setengah lima lebih, aku dan suami berangkat mengendarai motor menuju bidan sambil membawa gembolan perlengkapan persalinan yang telah kami siapkan jauh jauh hari sebelumnya.
Keadaan masih gelap dan sepi. Rasa sakit yang makin menggigit ketika di perjalanan itu membuatku meremas pinggang dan menggigit bahu suami untuk menahannya.
Sampai disana, memencet bel, masuk ke teras tunggu, dan kembali merasakan sakit yang luar biasa itu. Setelah menunggu bidan selesai shalat Subuh, pengecekan dimulai.
Setelah di-VT, bidan menyatakan bahwa saat itu jalan lahirku telah pembukaan satu.
Masya Allah T_T
Sakit yang amat sangat itu…. ternyata baru pembukaan satu.
Akhirnya bidan meminta kami untuk pulang dulu ke rumah. Sarapanlah dulu, ngepel jongkok-lah dulu (agar jalan lahir makin terbuka), dan siapkan tenaga dulu. Kembalilah kesini sekitar pukul sebelasan. Begitu kata bidan.
Kamipun menurut untuk kembali pulang dan melaksanakan saran bidan.
Sampai di rumah, sakit itu makiiin mendera. Teriakan demi teriakanpun mulai tak tertahankan. Mamah tak bosan mengingatkan agar meminimalkan teriakan agar tenaga tak cepat habis. Allahu Rahmaan, susah sekali rasanya menahan teriakan itu.
Rasa sakit yang dua menit sekali itu entah sudah seperti apa rasanya. Suamipun menyempatkan untuk tilawah. Aku mencoba menyimak dengan syahdu untuk membunuh rasa sakit itu. Tapi nyatanya rasa sakitnya seperti menaiki level baru. Di sela kesakitan itu rasa kantuk pun datang tanpa permisi.
Sekejap tertidur kemudian terbangun seketika karena rasa sakit itu datang tanpa ampun. Begitu seterusnya. Allah..Allah…Allah… Tolonglah kami…..
Hingga sekitar pukul delapan lebih, mucus plug disertai bleeding itu datang. Rasa sakit yang levelnya terus naik dan naik itu membuat kami memutuskan untuk berangkat ke bidan sekitar pukul sembilan.
Tidak seperti keberangkatan pertama, kali ini kami berangkat bertiga. Aku, suami, dan Mamah. Menaiki motor. Suami mengendarai motor, aku di tengah, dan Mamah di belakang menjagaku agar tak terjatuh.
Air mata terus berderai. Ayoo Nak, kita berjuang.
Sampai di bidan dan di cek VT lagi, ternyata sudah pembukaan tiga menuju empat. Alhamdulillah ada peningkatan. Dan Masya Allah, empat jam berlalu sudah naik tiga bukaan. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal.
Bidanpun memutuskan untuk segera memasukkan kami ke ruang persalinan.
Ruangan itu terbagi menjadi dua. Satu ruang perawatan, satu lagi ruang persalinan.
Saat di ruang perawatan, aku makin tidak karuan. Jongkok berdiri, jalan jongkok, aah pokonya nikmat sekali rasanya ^_^
Bidan memberiku obat yang katanya bisa mempercepat pembukaan. Selang beberapa saat setelah menenggak obat itu, rasa sakit yang datang makin menjadi. Bidan memutuskan untuk membawa kami ke ruang persalinan.
Pukul sembilan tiga puluhan:
Aku mulai dibaringkan di kasur ruang persalinan. Yaa Allah Yaa Rabbi, inikah rasanya? Se’nikmat’ inikah rasanya untuk meraih pahala syahid itu? Tolonglah kami Duhai Rabbi …
Cerita ini mulai sulit aku definisikan dalam kalimat-kalimat. Erangan, teriakan, remasan, gigtan, sungguh tak tertahankan. Ingin rasanya mengejan namun belum diperbolehkan. Bidan menyatakan pembukaan sudah lengkap alias pembukaan sepuluh entah di pukul berapa. Tak perduli lagi kami dengan dentang waktu yang seakan berjalan begitu lambat. Ketika pembukaan lengkap, itu artinya sudah boleh mengejan ketika kontraksi datang.
Kuperhatikan rasa sakit itu baik-baik, ketika kontraksi datang aku mulai mengejan. Tapi ternyata sang bayi masih belum mau keluar. Wajarlah anak pertama, batinku menenangkan.
Di kontraksi demi kontraksi yang datang aku mengejan sesuai insruksi bidan. Di setiap jeda kontraksi, aku berusaha menenangkan diri, mengumpulkan tenaga, serta melangitkan do’a setinggi yang aku mampu. Rabbi, tolong mudahkan kami….
Allahu Rabbi, ternyata sakit yang kurasakan dari semalam itu belum ada apa-apanya dibanding ini. Duhai Rabbi, tolonglah kami….
Di sela erangan kesakitan yang kurasa, masih kuingat betapa maut itu berjarak sangaat dekat. Aku takut ketika maut menjemput, suami belum meridhaiku. Di tengah jeritan kesakitan itu, sebisa mungkin harus kupinta maaf dan ridha dari suami.
Rasa sakit yang makin menggila itu melemparkanku ke ingatan perlakuan dan baktiku pada orang tua, terutama Mamah. Pastinya Mamahpun merasakan sakit yang kualami sekarang. Lalu ketika besar, aku mulai melawan dan belum menjadi anak baiknya Mamah. Maka segera pula kupinta maaf dan ridha dari Mamah.
Jelas sekali dalam ingatan ketika orang-orang di sekitarku mulai bercucuran air mata berusaha menguatkan aku yang tengah didera kesakitan yang teramat sangat. Allah, bantulah kami…
Bidan pun terus menyemangat kami dengan bilang, “Ayoo kepalanya udah keliatan..”, “Waaah rambut si dedenya lebat…”, “Ayoo Fit dikit lagi…”
Kukumpulkan seluruh tenaga terakhir yang aku miliki. Begitu kontraksi datang, aku mengejan sekuat mungkin. Dan, Alhamdulillah… seorang bayi keluar dari jalan lahir itu. Blaaar rasanya. Legaaa sekali rasanya ini perut yang kupikir sudah terbebas kontraksi.
Ingin rasanya langsung sujud syukur, tapi apa daya… Rasa lemas begitu mendera. Suami langsung memelukku begitu erat dan tak henti kami ucapkan takbir dan tahmid.
Tapiii… mengapa taka ada suara tangis bayi yang kami dengar.
Allah T_T Ada apa ini ???
Aku dan suami berpelukan begitu erat sembari menangis sesenggukan. Yaa Rabb, secepat itukah Kau ambil kembali titipanMu yang bahkan untuk memeluk dan menciumnya pun kami belum sempat?
Di tengah tangisan kami di ruang itu, bidanpun dengan cekatan menepuk nepuk badan bayi yang tak bergerak itu. Memasukkan beraneka macam selang pada hidung juga mulut bayi yang tergolek itu.
“Yaa Allah.. Mpit aja Yaa Allah… Mpit aja”, teriakku ketika itu disertai deraian air mata yang makin membanjir.
Air mata suamipun tak kalah membanjir juga kala itu. Entah apa yang ada di pikiran kami masing-masing kala itu. Saling berpeluk adalah penawar yang bisa kami lakukan kala itu.
“Ayoo Nak nangis Nak, ayoo ….”, lirih kami pada bayi yang masih tak bergerak itu.
Selang beberapa saat, suara tangis seperti pintu berderit mulai terdengar, hingga akhirnya tangis itu pecah makin kencang.
Air mata dan rangkaian tahmid dan takbir terus terurai dari orang tua baru di ruangan itu. Allahu Rabbi… terima kasih.. terima kasih T_T Allahu Akbar
NikmatNya mana lagi yang terdustakan.
Setelah beraneka selang itu dicabut dan memastikan tangisan bayi itu bukan halusinasi kami, tibalah saatnya prosesi IMD (Inisiasi Menyusui Dini).
Bayi mungil berambut lembat tak berdosa itu ditelungkupkan di tubuh seorang ibu baru. Membiarkan naluri bayi mencari sumber makanannya yang pertama.
Usai mengambil air wudhu, suami memeluk kami tanda ingin memberikan perlindungan kepada keluarga kecil barunya. Lalu ia kumandangkan adzan di telinga kanan, dan iqomah di telinga kiri. Kupandangi wajahnya yang menahan haru dan kudengar suaranya yang bergetar mengumandangkan adzan dan iqomah sambil sesenggukan menangis bahagia.
Rabbi.. inikah syurga itu? Seiris syurga yang kau cipta untuk dunia kecil kami..
Catatan tambahan:Setelah proses IMD dan kumandang adzan serta iqomah, ternyata bidan melakukan pengobrasan, eh maksudnya penjahitan jalan lahir. Mungkin maksudnya agar rasa sakitnya teralihkan dengan rasa bahagia merasakan bayi yang baru lahir. Tapi nyatanya masih sakit sih. Sedikit. Ah tapi sakitnya ternyata tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit ketika persalinan.Sepertinya dalam cerita di atas banyak dijelaskan tentang rasa sakit yang luar biasa. Walau benar adanya, tapi percayalah, rasa sakit itu akan segera terobati ketika mendengar tangis kecil dari bayi yang kami tunggu tunggu sembilan bulan lamanya itu. Maha Besar Allah dengan segala kuasaNya.

No comments:
Post a Comment